break
Jun 11

Suatu ketika, ada seorang bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka, ia
bertanya kepada Tuhan. “Ya Tuhan, Engkau akan mengirimku ke bumi. Tapi, aku
takut, aku masih sangat kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan
melindungiku disana?”.
Tuhanpun menjawab. “Diantara semua malaikat-Ku, Aku akan memilih seorang
yang khusus untukmu. Dia akan merawatmu dan mengasihimu.” Si kecil bertanya
lagi, “Tapi, disini, di surga ini, aku tak berbuat apa-apa, kecuali
tersenyum dan bernyanyi. Semua itu cukup membuatku bahagia.
Tuhanpun menjawab, “Tak apa, malaikatmu itu, akan selalu menyenandungkan
lagu untukmu, dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan
merasakan cinta dan kasih sayang, dan itu semua pasti akan membuatmu
bahagia.” Namun si kecil bertanya lagi, “Bagaimana aku bisa mengerti ucapan
mereka, jika aku tak tahu bahasa yang mereka pakai?
Tuhanpun menjawab, “Malaikatmu itu, akan membisikkanmu kata-kata yang
paling indah, dia akan selalu sabar ada disampingmu, dan dengan kasihnya,
dia akan mengajarkanmu berbicara dengan bahasa manusia.” Si kecil bertanya
lagi, “Lalu, bagaimana jika aku ingin berbicara padamu, ya Tuhan?”
Tuhanpun kembali menjawab, “Malaikatmu itu, akan membimbingmu. Dia akan
menengadahkan tangannya bersamamu, dan mengajarkanmu untuk berdoa.”
Lagi-lagi, si kecil menyelidik, “Namun, aku mendengar, disana, ada banyak
sekali orang jahat, siapakah nanti yang akan melindungiku?
Tuhanpun menjawab, “Tenang, malaikatmu, akan terus melindungimu, walaupun
nyawa yang menjadi taruhannya. Dia, sering akan melupakan kepentinganya
sendiri untuk keselamatanmu.” Namun, si kecil kini malah sedih, “Ya Tuhan,
tentu aku akan sedih jika tak melihat-Mu lagi.
Tuhan menjawab lagi, “Malaikatmu, akan selalu mengajarkamu keagungan-Ku,
dan dia akan mendidikmu, bagaimana agar selalu patuh dan taat pada-Ku. Dia
akan selalu membimbingmu untuk selalu mengingat-Ku. Walau begitu, Aku akan
selalu ada disisimu.”
Hening. Kedamaianpun tetap menerpa surga. Namun, suara-suara panggilan dari
bumi terdengar sayup-sayup. “Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang, tolong,
sebutkan nama malaikat yang akan melindungiku….”
Tuhanpun kembali menjawab. “Nama malaikatmu tak begitu penting. Kamu akan
memanggilnya dengan sebutan: Ibu…”
***
Burung, tak pernah diajarkan manusia untuk terbang, dan Ikan, tak pernah
belajar untuk berenang. Semuanya alami, semua berasal dari naluri. Hal itu,
akan hadir pada setiap mahluk yang percaya akan kebesaran Allah. Hanya
Allah
lah yang memberikan kita kekuatan itu.
Dan, teman, cinta memberikan kekuatan. Sebab, cinta adalah kekuatan itu
sendiri. Cinta seorang ibu adalah naluri, adalah alami, adalah sesuatu yang
hadir dalam jiwa-jiwa yang penuh rasa cinta. Setiap Ibu, tak akan pernah
diajari bagaimana mengasihi buah hatinya. Rasa itu akan hadir dengan
sendirinya.
Kita pun, punya rasa itu. Asal kita mau, menjalani semua garis-garis yang
telah
ditentukan-Nya.
Teman, mungkin belum banyak dari kita yang begitu peduli dengan Ibu. Kita
mungkin kerap membantah, menolak, mengindahkan, dan bahkan memaki Ibu kita
sendiri. Mungkin kita sering juga membuat beliau mengurai airmata. Padahal,
bukankah rasul Allah telah mengingatkan, surga ada di telapak kaki Ibu?
Cobalah, mulai kenang Ibu kita. Pandangi setiap kerut wajah nya, setiap
kersik-kersik rona matanya, setiap ujung-ujung putih rambutnya. Pandangi
raut wajahnya, ingat lekat-lekat badan tuanya. Peganglah punggung
tangannya, rasakan urat-urat yang ada di atasnya. Susuri jari-jemarinya,
genggam erat tanggannya. Dan ciumlah. Cium dengan sepenuh hati, dengan
sepenuh rasa dan jiwa ini. Rasakan kehangatannya. Rasakan dengan segenap
cinta.
Semoga Anda pun turut merasakan kehangatan itu

Jun 11

Seorang manager HRD sedang menyaring pelamar untuk satu lowongan di kantornya. Setelah membaca seluruh berkas lamaran yang masuk, dia menemukan 4 orang calon yang cocok. Dia memutuskan memanggil ke-4 orang itu dan menanyakan 1 pertanyaan saja. Jawaban mereka akan menjadi penentu apakah akan diterima atau tidak.

Harinya tiba dan ke-4 orang itu sudah duduk rapi di ruangan interview. Si Manager lalu mengajukan 1 pertanyaan: setahu Anda, apa yang bergerak paling cepat?

Kandidat I menjawab, “PIKIRAN. Dia muncul begitu saja di dalam kepala, tanpa peringatan, tanpa ancang-ancang. Tiba-tiba saja dia sudah ada. Pikiran adalah yang bergerak paling cepat yang saya tahu.”

“Jawaban yang sangat bagus”, sahut si Manager. “Kalau menurut Anda?”, tanyanya ke kandidat II.

“Hm… KEJAPAN MATA! Datangnya tidak bisa diperkirakan, dan tanpa kita sadari mata kita sudah berkejap. Kejapan mata adalah yang bergerak paling cepat kalau menurut saya.”

“Bagus sekali! Dan memang ada ungkapan ’sekejap mata’ untuk menggambarkan betapa cepatnya sesuatu terjadi.” Si manager berpaling ke kandidat III, yang kelihatan berpikir keras.

“NYALA LAMPU adalah yang tercepat yang saya ketahui”, jawabnya, “Saya sering menyalakan saklar di dalam rumah dan lampu yang di taman depan langsung saat itu juga menyala.”

Si manager terkesan dengan jawaban kandidat III. “Memang sulit mengalahkan kecepatan cahaya.”, pujinya.

Dilirik oleh sang manager, kandidat IV menjawab, “Sudah jelas bahwa yang paling cepat itu adalah MENCRET.”

“APA???!!!”, seru sang manager yang terkaget-kaget dengan jawaban yang tak terduga itu.

“Oh saya bisa menjelaskannya.”, kata si kandidat. “Dua hari lalu kan perut saya mendadak mules sekali. Cepat-cepat saya berlari ke toilet. Tapi sebelum saya sempat BERPIKIR, MENGEJAPKAN MATA atau MENYALAKAN LAMPU, saya sudah berak di celana.”

Tentu saja kandidat terakhir yang diterima…